Arpan Rachman - Okezone TIADA yang lebih diinginkan publik sepakbola nasional selain kemenangan atas timnas atas Oman dalam lanjutan kualifikasi Grup B Pra Piala Asia, pada Rabu (6/1/2010). Bermain di kandang, meski peluang makin tipis, yang dikehendaki dari skuad Merah-Putih hanya juang petarung sesungguh hati.
Bila garis pertahanan sudah aman dikawal Charis Yulianto dan kawan-kawan, baiklah kini kita bergerak ke depan. Beragam pilihan variasi bermain yang selama ini khas diracik pelatih Benny Dollo. Tapi momen taktiknya yang paling indah perlu diingat yakni ketika Kurniawan Dwi Julianto menceploskan gol ke gawang China dalam prakualifikasi Piala Dunia 2002 di Kunming.
Saat itu, tendangan penjuru dilakukan. Gelandang Yaris Riyadi berlari secara diagonal dari mulut kotak penalti ke arah depan umpan. Tapi dia hanya menyongsong saja bola yang meluncur datar ke arahnya tanpa mengambil kesempatan. Umpan itu lolos dan bergulir ke hadapan Kurniawan. Kesempatan pertama, tendangan keras diayunkan, dan gol.
Sejak itu amat jarang terlihat lagi skema serangan yang dirancang begitu mulus. Menjadi cetakan gol yang berkelas dunia. Mungkin manajemen pelatih timnas kehilangan imajinasi meracik taktik seperti yang diperlihatkan Kurniawan dkk di Kunming, sembilan tahun silam.
Kini, dalam skuad timnas bercokol beberapa nama penyerang. Bila Bendol memilih pola serang satu-dua dengan satu penyerang lubang atau dua sejajar dalam patron striker-double striker, beberapa kemungkinan pasangan boleh dikedepankan.
Bila garis pertahanan sudah aman dikawal Charis Yulianto dan kawan-kawan, baiklah kini kita bergerak ke depan. Beragam pilihan variasi bermain yang selama ini khas diracik pelatih Benny Dollo. Tapi momen taktiknya yang paling indah perlu diingat yakni ketika Kurniawan Dwi Julianto menceploskan gol ke gawang China dalam prakualifikasi Piala Dunia 2002 di Kunming.
Saat itu, tendangan penjuru dilakukan. Gelandang Yaris Riyadi berlari secara diagonal dari mulut kotak penalti ke arah depan umpan. Tapi dia hanya menyongsong saja bola yang meluncur datar ke arahnya tanpa mengambil kesempatan. Umpan itu lolos dan bergulir ke hadapan Kurniawan. Kesempatan pertama, tendangan keras diayunkan, dan gol.
Sejak itu amat jarang terlihat lagi skema serangan yang dirancang begitu mulus. Menjadi cetakan gol yang berkelas dunia. Mungkin manajemen pelatih timnas kehilangan imajinasi meracik taktik seperti yang diperlihatkan Kurniawan dkk di Kunming, sembilan tahun silam.
Kini, dalam skuad timnas bercokol beberapa nama penyerang. Bila Bendol memilih pola serang satu-dua dengan satu penyerang lubang atau dua sejajar dalam patron striker-double striker, beberapa kemungkinan pasangan boleh dikedepankan.
Jelas saja, Budi Sudarsono menempati rangking atas untuk menempati posisi inti, baik sebagai penyerang lubang, setengah gelandang serang atau sekadar menjadi striker bayangan. Kuasa olah bola pemain asal Persib Bandung ini nyaris tidak tergantikan.
Namun anehnya, Budi seperti mengalami kendala berarti saat diduetkan bersama Bambang Pamungkas.
Kerjasama langsung antarkeduanya hanya sekali pernah menghasilkan peluang emas dalam ajang prestisius di Piala Asia 2004. Tepatnya, dalam satu kesempatan berkelit di sayap kiri pertahanan Qatar (lawan PSSI saat itu) Budi melayangkan bola ke dalam kotak penalti. Bepe yang telah menanti di sana, segera melompat tinggi. Namun mistar jadi sasaran sundulannya yang terbentur bukan jala gawang.
Bertindak selaku striker murni, kelas Bambang Pamungkas bisa dikatakan berada di atas rata-rata pemain lain. Setelah menimba ilmu di klub EHC Norad Belanda, Bepe lebih pintar mengatur tempo lompat (timing) dan sepakannya kian bertenaga. Hanya egoismenya kerap muncul di saat tak perlu. Dia masih punya handicap untuk bola pendek dan harus berkonsentrasi memainkan peran tembok target yang berfungsi laiknya pemantul umpan, terutama saat zona serang belum sepenuhnya dikuasai dukungan para gelandang.
Satu nama harus ditinggalkan, Boaz Solossa. Semumpuni apapun kualitas seorang bintang, bila gagal berkoordinasi di tengah lapangan, sebaiknya dia dilupakan saja. Apalagi tabiat lambatnya memenuhi panggilan pelatnas bisa jadi pemicu kecemburuan di hati pemain lain.
Lubang Oman barangkali terdapat di antara celah miskoordinasi antarmereka sendiri. Bek-bek sayap yang bisa terlalu nafsu menyuplai umpan silang dan gelandang yang tak cepat menutup ruang. Di bawah mistar, ketangguhan Ali Al Habsyi kiper asal klub Liga Inggris Bolton Wanderers, patut diuji dengan tendangan mendatar atau menyilang. Bola-bola atas tentu akan lahap diterkam Ali.
Tinggal lagi kini, bagaimana Bendol pandai mencari alternatif selain duet Budi-Bambang. Dia pasti sudah tahu benar bahwa di kandang Stadion Gelora Bung Karno, publik hanya memahami satu pola berupa sepakbola menyerang. (acf)
Namun anehnya, Budi seperti mengalami kendala berarti saat diduetkan bersama Bambang Pamungkas.
Kerjasama langsung antarkeduanya hanya sekali pernah menghasilkan peluang emas dalam ajang prestisius di Piala Asia 2004. Tepatnya, dalam satu kesempatan berkelit di sayap kiri pertahanan Qatar (lawan PSSI saat itu) Budi melayangkan bola ke dalam kotak penalti. Bepe yang telah menanti di sana, segera melompat tinggi. Namun mistar jadi sasaran sundulannya yang terbentur bukan jala gawang.
Bertindak selaku striker murni, kelas Bambang Pamungkas bisa dikatakan berada di atas rata-rata pemain lain. Setelah menimba ilmu di klub EHC Norad Belanda, Bepe lebih pintar mengatur tempo lompat (timing) dan sepakannya kian bertenaga. Hanya egoismenya kerap muncul di saat tak perlu. Dia masih punya handicap untuk bola pendek dan harus berkonsentrasi memainkan peran tembok target yang berfungsi laiknya pemantul umpan, terutama saat zona serang belum sepenuhnya dikuasai dukungan para gelandang.
Satu nama harus ditinggalkan, Boaz Solossa. Semumpuni apapun kualitas seorang bintang, bila gagal berkoordinasi di tengah lapangan, sebaiknya dia dilupakan saja. Apalagi tabiat lambatnya memenuhi panggilan pelatnas bisa jadi pemicu kecemburuan di hati pemain lain.
Lubang Oman barangkali terdapat di antara celah miskoordinasi antarmereka sendiri. Bek-bek sayap yang bisa terlalu nafsu menyuplai umpan silang dan gelandang yang tak cepat menutup ruang. Di bawah mistar, ketangguhan Ali Al Habsyi kiper asal klub Liga Inggris Bolton Wanderers, patut diuji dengan tendangan mendatar atau menyilang. Bola-bola atas tentu akan lahap diterkam Ali.
Tinggal lagi kini, bagaimana Bendol pandai mencari alternatif selain duet Budi-Bambang. Dia pasti sudah tahu benar bahwa di kandang Stadion Gelora Bung Karno, publik hanya memahami satu pola berupa sepakbola menyerang. (acf)

